Kamis, 28 Juli 2016

[ROUND 1 - 3C] 16 - ASIBIKAASHI | MEREBUT ANATOLIA


By: Zoelkarnaen
Group 3 The Alien - C. The Colony of Rising Sun

---
MEREBUT ANATOLIA

Hawa dingin, langit yang berwarna pelangi, dan gedung-gedung dengan bentuk tak beraturan kembali menyambut penglihatanku. Kami semua dikembalikan ke tempat terkutuk ini, batas mimpi mereka menyebutnya. Segera setelah mereka menunjukkan kekuatan Sang Kehendak—memastikan kalau kami tak memiliki keinginan untuk kabur—dan memastikan tak ada di antara kami yang akan memberontak, mereka mengirim kami semua ke tempat pertarungan awal.

Bagiku dan Asibi, tempat inilah tujuan kami sebelum tempat pertarungan berikutnya.

 Setelah menemukan dataran yang cukup lapang tanpa puing atau reruntuhan gedung, kami mulai duduk. Si Brurung Hantu tua, Asibi, aku, dan Wendigo yang baru saja dipanggil oleh Asibi. Namun ada yang aneh dengan Wendigo, tubuhnya terlihat agak transparan.

Aku yang menyadari Asibi baru saja memanggil Wendigo pun bertanya, "Asibi, kukira kau kehilangan semua kemampuanmu?"

"Aku memang memanggilnya, tapi hanya jiwanya. Entah mengapa aku masih bisa memanggilnya secara fisik."

"Kenapa kau memanggilku?" tanya Wendigo tanpa basa-basi. "Aku bukanlah bagian dari grup ceria kalian."

"Karena kita perlu memutuskan apa langkah kita berikutnya," Asibi menjawab, raut wajahnya tetap terlihat tenang. "Saat ini hanya kau dan aku yang tahu soal keadaan kita, apapun yang terjadi kepada kita di tempat ini tak akan berpengaruh kepada kita yang di luar."

Wendigo mendengus, ia terlihat tak terlalu peduli.

"Asibi, apa maksudmu hanya kau dan makhluk terkutuk itu yang tahu? Lalu apa maksudmu dengan kita yang di tempat ini dan kita yang di luar?"

Asibi mengelus kepalaku sebelum berkata, "Myeengun, apa kau sadar makhluk apa kita semua ini?"

"Roh alam," jawabku menatap mata Asibi dengan kepala masih penuh dengan pertanyaan.

"Begini," lanjut Asibi sambil mengambil segenggam pasir lalu mengangkatnya. "Kita bagaikan pasir dalam genggaman ini," tambahnya lagi sebelum memisahkan sedikit dari pasir itu dengan tangan kirinya.

"Dan ini adalah kita yang terperangkap di tempat ini," jelas Asibi sambil mengangkat genggaman di tangan kirinya. "Kita roh alam tak akan pernah bisa terikat dalam ruang dan waktu, kita juga tak akan pernah bisa dimusnahkan. Kita ada di masa kini, masa lalu, dan masa depan. Kita adalah satu sekaligus legiun, kita yang terperangkap di tempat ini hanyalah satu di antara banyak yang masih ada di luar sana."

"Kau berharap mereka mengerti penjelasanmu," sindir Wendigo yang memotong penjelasan Asibi. "Anjing dan burung hantu milikmu itu masih seribu tahun terlalu dini untuk bisa mengerti."

Betapapun inginnya aku mengoyak leher Wendigo, dia benar, aku memang tak mengerti. Namun dari kilatan cahaya di mata si Burung Hantu tua, sepertinya ia memahami sesuatu.

"Ah!" tiba-tiba si Burung Hantu tua bersuara. "Jadi dengan kata lain, kita ini seperti drone dengan satu kesadaran, bukan?"

"Nyaris," sahut Asibi yang tersenyum. "Kita adalah roh alam, bagian dari alam, wujud kita ini hanyalah hasil materialisasi sedikit dari keseluruhan diri kita. Jadi meskipun kita berempat ini hilang di tempat ini selamanya, hal tersebut bagaikan kehilangan sehelai rambut dari keseluruhan diri kita di luar sana yang merupakan bagian dari alam."

"Hidup mati kita di sini memang terikat dengan Sang Kehendak, namun di sisi lain Sang Kehendak tak memiliki pengaruh dengan keseluruhan diri kita di luar sana. Kalau kalian sudah memahami semua itu, apa lagi yang perlu di bahas sekarang?" tanya Wendigo.

"Masih ada yang perlu kita bahas," timpal Asibi seraya menyeringai. "Kalah memang tak memiliki pengaruh banyak bagi kita, meskipun sedikit bagian dari diri kita menjadi patung di tempat ini, tapi bagaimana dengan menang? Apa yang akan kita dapatkan kalau kita menang di permainan Sang Kehendak ini?"

"Hoo..." Wendigo pun kini memperlihatkan seringainya.

Sampai di sini aku pun mulai mengerti, karena sebagai roh alam—meskipun kami ada karena harapan dan keinginan manusia—kami juga memiliki tujuan dan keinginan masing-masing.

Asibikaashi, roh alam hasil manifestasi mimpi dan harapan manusia, ia memiliki keinginan untuk melindungi harapan dan mimpi dari manusia.

Wiijishimotawaa Gookooko'oog, atau si Burung Hantu tua, roh alam hasil manifestasi dari manusia yang tersesat dan menginginkan pengetahuan. Ia adalah simbol pengetahuan dan pemandu bagi manusia, dan ia sangat haus akan pengetahuan.

Aku sendiri, Myeengun, adalah roh alam simbol pejuang yang merupakan hasil manifestasi dari keinginan manusia untuk melindungi, baik melindungi alam ataupun sesama. Tentu saja aku juga memiliki keinginan sendiri, aku ingin melindungi semua yang berharga bagiku.

Untuk Wendigo sendiri, tidak usah dibahas, karena sudah pasti ia menginginkan kekacauan dan kehancuran sebanyak mungkin.

"Jadi, apakah kita semua ingin memenangkan permainan Sang Kehendak ini?" tanya Asibi lagi, yang tentu saja disetujui oleh kami semua.

Tak lama kemudian mulut domba putih di dekat si Burung Hantu tua pun mulai mengeluarkan bunyi aneh, yang kemudian disusul munculnya kertas dari mulut domba tersebut seperti mesin faks.

Gunakan domba untuk memandumu menuju ronde berikutnya.
Di sana kau harus memilih satu di antara dua kubu atau menjadi netral.
Silakan gunakan benda terlampir sebelum melangkah ke ronde selanjutnya.
nb: Domba ini juga bisa jadi tunggangan lho~

Tepat setelah aku dan Asibi selesai membaca tulisan yang tercetak di kertas tersebut, punggung si domba putih pun terbuka seperti punggung pesawat ulang-alik. Di dalam sana kami semua dapat melihat sebuah pakaian anti radiasi lengkap dengan tabung oksigennya.

"Ada yang aneh," cetus Asibi, "kenapa mereka memberikanku pakaian anti radiasi? Apakah ronde berikutnya akan dilangsungkan di reaktor nuklir?"

"Hei, kalau mau curiga dengan sesuatu yang aneh, coba pikirkan dulu kenapa domba ini bisa berfungsi sebagai mesin faks dan bagasi?" kataku sambil menggigit pakaian anti radiasi tersebut dari dalam punggung si domba, sebelum kuberikan kepada Asibi.

Lalu bersamaan dengan tertutupnya punggung si domba, sebuah portal hitam terbuka. Di pimpin oleh si domba putih kami pun masuk.


NEST's Command Bridge, Tuesday, 1300 hours
Sesosok wanita dengan bekas luka melintang di bagian kanan wajahnya sedang berdiri di hadapan sebuah monitor besar, di hadapannya juga duduk beberapa operator radar yang nampak sibuk menganalisa situasi. Di monitor besar itu terdapat enam titik hitam yang tersebar di berbagai wilayah Anatolia.

"Saat ini sudah terdapat enam titik anomali dalam medan gravitasi!"

"Area tiap anomali sekitar lima meter dari pusatnya!"

"Ah, sekarang mulai terjadi distorsi ruang dan waktu, sepertinya lubang hitam muncul di tiap lokasi anomali!"

"Bukan," sahut wanita dengan rambut sebahu yang berdiri di belakang para operator radar tersebut. "Itu bukan lubang hitam, itu portal. Tapi soal portal dari mana atau menuju ke mana, kita tidak tahu."

Tiba-tiba saja ada suara yang bergema di seluruh benteng berjalan milik NEST tersebut, membuat seluruh benteng beserta isinya bergetar.

"Akari, apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya suara yang ternyata milik RAVEN alias Kilat Hitam.

"Aku akan kirim enam regu elit NEST untuk menyelidiki enam titik anomali tersebut."

"Dimengerti," sahut Kilat Hitam kembali membuat seluruh NEST bergetar.

Satu jam kemudian, satu-persatu kendaraan lapis baja mulai meninggalkan NEST dan menuju Anatolia, totalnya ada enam kendaraan. Sementara itu di anjungan komando NEST, Akari duduk di belakang para operator radar, ia memakai sebuah headset dan mengamati pergerakan keenam regu yang dikirim ke enam titik anomali.

"Semua regu Servant, laporkan situasi saat ini!"

Suara statis radio terdengar, sebelum satu-persatu regu elit NEST melaporkan situasi mereka masing-masing.

"Di sini Saber, kami baru saja melewati batas kota Anatolia, enam klik sampai ke titik anomali satu!"

"Di sini Archer, kami hampir mencapai batas kota Anatolia, lima klik sampai ke titik anomali kedua!"

"Di sini Lancer, kami di posisi dua klik melewati batas kota, enam puluh detik sebelum kontak dengan titik anomali ketiga!"

"Di sini Berserker, kami masih satu klik sebelum mencapai batas kota, masih delapan klik lagi sebelum kami tiba di titik anomali keempat!"

"Di sini Caster, kami tiga klik melewati batas kota, dua menit sebelum mencapai titik anomali kelima!"

"Di sini Rider, kami baru saja melewati batas kota, tiga klik sebelum kami tiba di titik anomali keenam!"

Mulai merasa gugup—terutama dengan regu Lancer yang sudah tiba di titik anomali tiga—Akari pun bangkit dari duduknya, matanya tak lepas dari monitor besar di hadapannya. Ia menunggu laporan kontak pertama dari regu tersebut.

Sayangnya bukan laporan dari regu Lancer yang terdengar, melainkan suara tembakan dan ledakan yang terus bersahutan.

"Di sini Lancer, kontak pertama tidak bersahabat! Kami akan mundur! Seseorang mengenakan pakaian anti-radiasi dan seekor naga mengejar kami!"

"Lancer, segeralah menuju lokasi Caster, mereka hanya tiga klik dari lokasi kalian!" sahut Akari dengan tangan terkepal.

"Di sini Caster, kami akan membatalkan kontak dengan titik anomali kelima dan memberikan bantuan kepada Lancer!"

"Lakukan!" perintah Akari cepat.

"Jangan!" sahut regu Lancer tiba-tiba, "kami sudah kehilangan enam orang dan Sersan Matsumoto terluka parah! Kalian Caster lanjutkan saja misi kalian!"

"Hei, tidak boleh ada satupun personel NEST yang tertinggal di medan perang! Kalau perlu akan kumobilisasi semua Servant menuju lokasimu! Dan kau, bawahan Matsumoto, sebutkan nama dan pangkatmu, akan kuhukum kau setibanya di sini karena sudah berpikiran untuk menyerah dan mati!"

"Kolonel Akari, di sini Kopral Kenji dari regu Lancer, Sersan Matsumoto dan tiga lagi anggota kami baru saja gugur. Orang itu dan naga api peliharaannya semakin mendekat," jawab regu Lancer dengan suara lirih. "Maafkan saya karena tidak bisa mengikuti perintah Anda. Ngomong-ngomong, boleh saya minta tolong? Sampaikan kepada istri saya untuk tidak menunggu saya pulang untuk makan malam."

Setelah itu, hanya suara tembakan dan teriakan yang terdengar dari radio regu Lancer. Akari berbalik lalu menendang kursinya sendiri hingga terpental jauh. Dua belas nama tertulis di layar dengan huruf berwarna merah, seluruhnya adalah anggota regu Lancer yang dipimpin oleh Sersan Matsumoto.

Seluruh perwira di anjungan pun melepas topi mereka, untuk kemudian meletakkannya di dada masing-masing.

Saat ini ia sangat berharap agar Kilat Hitam memberinya perintah, karena dengan perintah itu ia mau tak mau harus melaksanakannya. Saat ini ia ingin sekali membatalkan misi tiap regu Servant dan mengirim mereka untuk menuju lokasi terakhir regu Lancer.

Namun di sisi lain ia sadar, kalau ia mengirim satu saja regu Servant ke sana, itu berarti ia membuang waktu dan menyia-nyiakan pengorbanan regu Lancer. Risikonya ia akan kehilangan satu lagi regu Servant di tangan sosok misterius dan peliharaan naganya, ia juga akan kehilangan jejak atas siapapun yang akan muncul di lokasi anomali yang ditinggalkan regu Servant tersebut.

"Kepada seluruh regu Servant, lanjutkan misi kalian masing-masing, tapi berhati-hatilah sebelum melakukan kontak. Tinggalkan lokasi kalau ada tanda-tanda permusuhan dari siapapun yang muncul di sana," Akari mengeluarkan perintah, suaranya terdengar agak serak. Dalam hatinya ia bersumpah akan membalaskan kematian regu Lancer.


NEST's Hangar, just outside of Decontamination Room, Tuesday, 1600 hours
Akari berdiri menghadap ruang dekontaminasi, di belakangnya berdiri puluhan personel keamanan NEST bersenjata lengkap. Ia merapikan kemeja coklat yang terbalut jaket jeans yang dikenakan, memeriksa katana yang tergantung di pinggul kirinya, kemudian Akari tak lupa mengokang senapan serbu yang ia bawa.

Sebelumnya kelima regu Servant yang tersisa sama sekali tak menemukan kendala dalam melakukan kontak, sepertinya hanya satu pendatang dari portal yang tidak bersahabat. Namun bukan berarti ia boleh lengah dalam menghadapi kelima pendatang sisanya, karena tanggung jawab seluruh NEST kini berada di bahunya.

Delapan Letkol di bawah komando Akari menentang keputusannya untuk membawa kelima pendatang tersebut ke dalam NEST. namun ia bersikukuh untuk tetap membawa mereka ke tempat ini. Karena menurutnya, jika salah satu dari mereka sanggup untuk memusnahkan satu regu elit milik NEST, ia tak mau membayangkan kalau lima sisanya jatuh ke tangan Happy Holy Family.

Perlahan pintu besar anti-ledak yang menghubungkan ruang dekontaminasi dan hanggar pun terbuka, kabut putih pun mulai menyebar dari dalam ruang dekontaminasi.

Terdengar riuh suara dari dalam ruang tersebut, berbagai macam sosok mulai bermunculan dari balik kabut. Di belakang mereka mengikuti kelima regu Servant yang tersisa, wajah mereka terlihat lelah.

"Heppow lapar, Heppow lapar!" seru cacing dengan fisik yang keterlaluan besar, ukuran tubuhnya saja mampu menempati separuh ruang dekontaminasi yang luasnya bisa ditempati dua puluh buah tank.

"Oh ayolah, Hepp, bukankah kau baru saja makan sebelum kita sampai di tempat ini?"

"Namol, tanyakan kepada mereka, di mana kita sekarang? Minta penjelasan sekarang!" perintah makhluk kecil yang melayang di sekitar pria berambut oranye.

Sementara itu seorang pria tinggi dan kekar juga berambut pirang sedang asik berdiskusi dengan sosok humanoid berkepala naga, dan di sebelahnya seorang wanita berambut hitam sebahu sedang ngobrol dengan anjing putih yang berukuran sangat besar.

Belum sempat Akari bereaksi, tiba-tiba saja seorang nenek tua muncul di sebelahnya, nenek itu kemudian berpose di sebelah Akari sebelum memotret diri sendiri dengan telepon genggam miliknya.

Baru saja pasukan keamanan di belakang Akari akan menodongkan senjata mereka, Sersan Banri dari regu Caster memberi isyarat kalau nenek itu bukanlah ancaman.

***

Beberapa jam sudah berlalu sejak kami tiba di bingkai mimpi ini. Sesampainya di tempat ini, beberapa prajurit bersenjata lengkap mendekati Asibi. Mereka semua memakai pakaian anti-radiasi yang mirip dengan milik Asibi, hanya saja warnanya yang berbeda.

Sekarang kami tiba di sebuah benteng besar yang berjalan, dan kalau kulihat dari saat sebebelum kendaraan yang membawa kami masuk ke benteng ini, sepertinya bangunan berjalan ini bergerak mengelilingi kota tempat kami tiba barusan.

Alasan kenapa para prajurit tersebut memakai pakaian anti-radiasi seperti Asibi adalah keadaan dunia ini, udara terbuka dipenuhi Partikel Kajima, partikel yang berbahaya untuk semua makhluk organik.

Pada awalnya para prajurit itu enggan membawaku serta, namun setelah Asibi menjelaskan dan mereka paham kalau partikel kajima tidak dapat mempengaruhiku, barulah mereka mengizinkanku untuk ikut. Toh tak akan ada masalah kalaupun mereka tak mengizinkanku, mereka tak akan bisa menghentikanku.

Sesaat setelah kendaraan lapis baja yang membawa kami masuk ke benteng di ruang steril, di sanalah aku menyadari kalau kami bukan satu-satunya reveriers yang dijemput oleh sekelompok prajurit. Masih ada empat regu selain regu yang menjemput kami, dan tentu saja ada empat reveriers lainnya bersama mereka.

Ada si kribo yang terlihat selalu menggerutu, di sebelahnya ada cacing raksasa yang mungkin peliharaannya. Lalu ada manusia berkepala naga, nenek narsis yang selalu mengambil foto selfie tiap beberapa menit, dan terakhir pemuda pirang yang—meski agak semerawut—terlihat cukup gagah.

Segera setelah pintu besar yang terbuat dari baja mulai terbuka, aku menyadari sesuatu dan menyenggol Asibi untuk memberitahunya.

"Ya, Myeengun, aku juga menyadarinya," ia menjawab, matanya lekat mengawasi si nenek narsis.

Hawa keberadaan nenek itu menipis, nyaris tak terasa, dan kini ia mulai bergerak maju tanpa ada seorangpun yang menyadari. Kecuali aku dan Asibi tentunya. Setelah itu si nenek mulai mengambil foto selfie di dekat seorang wanita yang nampak seperti seorang perwira, tentu saja hal tersebut memancing reaksi dari pasukan bersenjata di belakang si perwira wanita.

Namun si nenek beruntung, karena salah satu pimpinan regu yang menjemput para reveriers memberi isyarat kepada si perwira, dan keadaan pun menjadi kembali tenang.

"Saya ucapkan selamat datang di markas NEST kepada kalian, para pendatang dari semesta lain!" sambut si perwira wanita dengan suara lantang. "Saya adalah Kolonel Akari, pemimpin dari NEST, pasukan yang akan membebaskan Anatolia dari penindasan Happy Holy Family!"

Sebelum sang kolonel kembali berbicara, si tua berkepala naga mengacungkan tangan. "Punten, Néng, tahu dari mana kalau kami pendatang dari semesta lain?"

"Kalian datang dari pusat anomali gravitasi, yang di sana kemudian terjadi distorsi ruang dan waktu. Di lihat dari manapun, kalian bukanlah penduduk dunia ini."

Mendengar jawaban si kolonel, si tua berkepala naga pun mengangguk. "Asup di akal. Ai mun kitu perkenalkan, nama sayah Amut, tiasa oge dipanggil Mbah Amut. Oh, sebenarnya aya deui yang seharusnya bersama sayah, tapi bakat ku riweuh jadi haroream mawana ge."

"Bian Olson," sambung si pemuda pirang ikut memperkenalkan diri.

"Asibikaashi," lanjut Asibi juga memperkenalkan diri.

"Namol," kini giliran si kribo.

"Martha," si nenek narsis terakhir bersuara, namun ia masih mengambil beberapa foto selfie di sekitar hangar.

"Baiklah, karena perkenalan sudah dilakukan, sekarang kalian ikuti saya untuk sedikit melakukan pertukaran informasi," ujar Kolonel Akari sambil memberi isyarat dengan tangan agar kami semua mengikutinya.

Apanya yang pertukaran informasi? Aku curiga kalau sebenarnya ia ingin menginterogasi kami semua, tentu saja aku memperingatkan Asibi dengan tatapanku. Asibi pun mengangguk.


NEST's Conference Room, Tuesday 16:20
Di ruang rapat yang cukup besar inilah Kolonel Akari—yang duduk di seberang para pendatang dan terpisahkan oleh meja berbentuk elips—menjelaskan situasi dunia ini, sementara itu di kedua sisinya ikut duduk juga delapan orang berpangkat letkol yang merupakan bawahan Akari. Tak hanya itu, di keempat sudut ruangan dan di dekat pintu berjaga beberapa prajurit bersenjata lengkap.

Akari juga menjelaskan soal bagaimana salah satu regunya dimusnahkan oleh satu orang pendatang seperti kami, dan ia ingin mengetahui tujuan kami datang ke tempat ini. Pada intinya ia ingin tahu apakah kami kawan atau lawan?

"Maaf, boleh nanya, enggak?" si kribo sedikit mengangkat tangannya setelah Akari selesai menjelaskan.

"Silakan, Tuan Namol."

"Aku sudah mengerti soal situasinya, tapi apa boleh aku tidak memilih di antara keduanya?"

"Apa maksudmu, Tuan Namol?"

"Soal kawan atau lawan, aku enggak mau jadi salah satu di antara keduanya."

Beberapa orang letkol yang duduk bersama Akari mulai berbisik-bisik di antara mereka.

"Kenapa kau ingin menjadi netral?!" seru salah satu letkol di sisi Akari, ia berdiri seraya menggebrak meja. "Melihat salah satu dari kalian sudah membantai satu regu elit kami, kalian pasti bukan orang-orang biasa! Kalau kalian membantu kami, kita pasti akan bisa memenangkan perang ini!"

"Tapi ini perang kalian, bukan perang kami," Amut kini ikut angkat bicara, nada suaranya berbeda dengan saat perkenalan dirinya barusan, dan matanya tajam menatap si letkol yang berbicara barusan.

"Yamada, Mbah Amut benar,"Akari menepuk bahu si letkol agar tenang dan kembali duduk. "Memang tidak etis rasanya menyeret orang luar untuk terlibat dalam pertikaian dunia kami, tapi kalau salah satu dari kalian sampai bergabung dengan pihak lawan, itu sudah pasti akan merusak keseimbangan peperangan ini."

"Mempertipis kesempatan kalian untuk menang, apa itu maksudmu yang sebenarnya?" tukasku yang sudah tidak tahan untuk ikut bicara.

Semua personel NEST yang berada di sana terkejut, tentu saja, karena aku yang sedari tadi mereka anggap hanya anjing tiba-tiba bicara. Pengecualian untuk para reveriers, sepertinya mereka sudah menjumpai yang lebih aneh daripada serigala yang dapat berbicara.

Akari yang lebih dulu tersadar dari keterkejutannya pun bertanya, "Dan kau adalah...?"

"Myeengun."

"Kau blak-blakan sekali."

"Terima kasih."

"Seperti yang Myeengun katakan, NEST tidak memiliki cukup banyak pasukan bersenjata, tapi kami cukup percaya diri untuk bisa menang. Tentu saja itu sebelum kedatangan kalian, itulah makanya saya mengajak kalian semua ke markas kami. Tentu saja saya tidak akan memaksa kalian untuk membantu kami dalam peperangan ini, tapi apapun itu, bantuan kalian akan sangat bearti bagi kami."

"Itu dengan asumsi kalau tiap-tiap dari kami berlima di sini memiliki kekuatan tempur setara atau lebih dari siapapun pendatang yang membantai regu kalian, tapi bagaimana kalau ternyata kami semua ternyata lebih lemah dari dia?" tanya Bian serius, tentu saja ini juga menjadi pertanyaan kami meski hanya pemuda itu yang menyuarakannya.

"Tentu saja tidak ada yang akan bisa dilakukan kalau itu memang benar, tapi tidak ada salahnya untuk kami sedikit berharap," jawab Akari dengan tenang. "Apapun keputusan kalian, ada tiga hari sebelum operasi militer kami dimulai, silakan kalian pikirkan baik-baik. Sementara itu saya masih banyak pekerjaan, kami akan meninggalkan kalian sekarang. Kalian boleh tetap di sini untuk berdiskusi, atau pergi menuju kamar masing-masing yang sudah di sediakan. Kopral Jun akan mengantarkan kalian ke kamar masing-masing."

Seorang prajurit wanita pun melangkah ke depan dari barisan prajurit di belakang Akari, ia berdiri tegap lalu memberi hormat kepada para reveriers. Sepertinya dialah Kopral Jun yang disebutkan barusan.

Dengan itu 'pertukaran informasi' pun berakhir, Akari yang diikuti barisan letkol bangkit untuk meninggalkan para reveriers.

"Ngomong-ngomong, mereka itu apa?" tanya Akari sebelum keluar ruangan, tangannya menunjuk kepada kumpulan lima domba putih yang sedang duduk di lantai dekat meja rapat. Kelimanya sedang asyik main kartu bersama.

Namun alih-alin menjawab, Asibi, Namol, Amut, Martha, dan Bian mengibaskan tangan secara bersamaan. Mereka tidak ingin menjelaskan dan berharap agar Akari tidak bertanya lebih lanjut soal para domba unik tersebut.

Segera setelah Akari dan para letkol meninggalkan ruangan, kelima reveriers mulai berembuk.

"Berdasarkan keterangan yang mereka berikan, sepertinya Happy Holy Family adalah pihak yang salah."

"Ujang Bian, kasep, ini téh bukan soal salah atau benar. Ini soal pilihan, kita sadayana dikasih tiga pilihan; pilih Happy Holy Family, NEST, atawa netral," tutur Mbah Amut atas pendapat si pemuda pirang sebelumnya.

"Nah, itu kenapa aku pilih netral," sambung Namol kemudian. "Ini perang mereka, bukan kita, jadi kenapa kita yang harus mempertaruhkan nyawa di sini?"

Atas argumen Namol barusan, Martha dan Mbah Amut mengangguk. Hanya Bian yang tampak serius berpikir, terlihat keningnya berkerut. Tentu saja aku tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat Namol, begitu juga dengan Asibi di sebelahku.

"Bagaimana dengan satu lagi reveriers yang tidak ada di sini?" tanya Asibi sambil menyeruput secangkir kopi di tangannya.

"Kenapa dengan dia? Tidak ada jaminan kalau dia bergabung dengan pihak satunya," Mbah Amut menanggapi.

"Memang, tapi bukan berarti ada jaminan kalau dia juga akan memilih netral. Ingat kembali misi kita di tempat ini. Kalau dia bergabung dengan Happy Holy Family, bukankah misinya akan mengikuti tujuan mereka, yang berarti menghancurkan NEST?"

"Neng Asibi, tapi kan, da kita mah netral?"

Asibi menghadap Mbah Amut lalu tersenyum. "Tapi pihak mereka tidak tahu itu, terlebih lagi kita saat ini sudah berada di dalam markas NEST. Kira-kira apa anggapan si reveriers satu itu dan pihak Happy Holy Family?"

Mbah Amut mengusap janggutnya, ia menyadari sesuatu, begitu juga dengan Martha. Sementara itu tampang Namol seperti orang yang sedang menahan buang air besar, sepertinya ia menyadari kalau mau tak mau ia harus terlibat. Hanya Bian yang terlihat dengan ekspresi berbeda, ia kini memandang Asibi dengan sorot mata yang...

Ah sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja.

"Tak usah terburu-buru, kita masih bisa memutuskan tiga hari lagi," ucap Asibi sambil tertawa kecil, ia lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju Kopral Jun. "Kalau di antara kalian masih ada yang ingin didiskusikan, silakan saja. Aku akan menuju ruanganku lebih dulu."


Asibi's Room, Friday, 0400 hours
Tiga hari berlalu begitu saja, selama ini aku hanya menetap di kamar Asibi untuk bermalas-malasan. Tentu saja bukan karena memang ingin bersantai, tapi karena memang tak ada yang dapat kulakukan saat ini. Dua hari terakhir Asibi berusaha untuk meyakinkan keempat reveriers lainnya, dan akhirnya ia berhasil, mereka mau untuk mengikuti rencananya.

Saat Asibi kembali ke kamar entah dari mana, aku tengah tidur meringkuk di lantai, di kala itu juga si Burung Hantu tua baru saja tiba untuk memberikan laporan hariannya. Sejak saat kami tiba di bingkai mimpi ini, Asibi langsung meminta si Burung Hantu tua untuk melakukan sesuatu untuknya. Itulah mengapa ia tidak ada saat kami baru tiba, dan ia hanya muncul tiap harinya pada jam ini untuk memberikan laporan kepada Asibi.

"Bagaimana?"

Si Burung Hantu tua pun mendekati Asibi. "Sesuai dugaanmu, Merald—"

"Tunggu sebentar," aku menyela sebelum si Burung Hantu tua memulai laporannya. "Sudah waktunya kalian menjelaskan rencana kalian."

Asibi pun tertawa, kemudian ia mulai memeluk dan mengusap-usap kepalaku.

"Hei, aku butuh penjelasan, bukan kasih sayang!"

"Aku mau jadi pengganti Myeengun, kau boleh melakukan apapun yang biasa kau lakukan terhadap Myeengun."

"Kau mau kumusnahkan?" raungku terhadap si Burung Hantu tua.

"Baiklah," ucap Asibi kemudian, "akan kujelaskan semuanya dari awal."

Secarik kertas pun dikeluarkan dari saku Asibi, dan aku mengenali kertas tersebut. Itu kertas faks yang keluar dari mulut domba, kertas yang berisi instruksi mengenai ronde ini. Setelah itu Asibi membalik kertasnya, di bagian belakang terdapat daftar yang berisi enam nama termasuk nama Asibi.

"Dengan daftar nama ini aku bisa meminta Wiijishimotawaa Gookooko'oog untuk mengintai kelima reveriers tanpa diketahui, tapi berhubung empat orang ada di tempat ini, aku hanya memintanya untuk mengintai satu orang. Merald si pengendali naga. Selain itu aku juga memintanya untuk mengintai Saraph, pemimpin dari Happy Holy Family."

"Lalu bagaimana hasilnya?"


"Silakan dengar langsung dari Wiijishimotawaa Gookooko'oog."

Si Burung Hantu tua pun berdeham. "Selama ini Merald tak pernah sekalipun berusaha bergabung dengan Happy Holy Family, malah ia terus-menerus membantai regu patroli mereka setiap beberapa jam."

"Hei, bukankah itu berarti bagus?" tanyaku yang agak bingung dengan perilaku Merald.

"Tidak juga," sambung si Burung Hantu tua, "selain patroli Happy Holy Family, ia juga membantai regu patroli milik NEST."

"Eh?"

"Merald bertujuan untuk memancing reaksi dari kedua kubu, ia berniat mengadu mereka. NEST sudah terbiasa saat regu patroli mereka bentrok dengan patroli Happy Holy Family di wilayah Anatolia, mereka juga terbiasa saat regu patroli mereka dibantai oleh regu patroli lawan. Tapi untuk Happy Holy Family, ini situasi yang tidak biasa," tutur Asibi menjelaskan motif Merald.

"Tunggu," aku memotong sebelum Asibi atau si Burung Hantu tua melanjutkan, "bukankah itu membuat Merald menjadi pihak netral? Lalu kalau dia netral, bukankah akan lebih baik kalau kita semua juga netral saja?"

"Satu, tidak ada jaminan kalau Saraph akan melihat kita sebagai pihak netral. Kedua, seyakin apa kau kalau perang ini akan berakhir hari ini. Selama NEST masih memiliki personel, baik NEST maupun Happy Holy Family tidak akan menganggap perang ini berakhir, dan hal ini bisa berlangsung sampai bertahun-tahun. Apa kau mau menunggu selama itu di tempat ini?" tanya Asibi balik.

"Tidak..."

"Lalu kini laporan yang berikutnya," lanjut si Burung Hantu tua. "Happy Holy Family terpancing, saat ini sekitar sepuluh ribu pasukan milik Saraph sudah berkumpul di plasa depan menara hitam tertinggi di Anatolia. Sepertinya pagi ini mereka akan bergerak untuk menyerang NEST."

"Lalu situasinya?" tanya Asibi kemudian.

Si Burung Hantu tua tertawa kecil. "Tenang saja, kalian mungkin tidak dapat melihat keadaan di luar sana, tapi saat ini angin panas dan debu sedang mengamuk di luar. Jadi serangan udara tidak akan mungkin dilakukan dari pihak Happy Holy Family."

"Hoo... Ini menarik. Baiklah, sekarang kalian ikuti aku, kita akan mulai pertempuran hari ini!"


NEST's Hangar, just outside of Decontamination Room, Friday, 0600 hours
Saat ini kami semua sedang bergerak menuju mobil lapis baja masing-masing, Asibi dan keempat reveriers lainnya sudah lengkap mengenakan pakaian anti-radiasi. Akan gawat kalau sampai satu di antara mereka terkena Partikel Kajima.

Sambil menenteng tas ransel hijau yang nampak penuh berisi, Asibi melirik ke arah Martha. Si nenek narsis itu pun tersenyum sambil mengacungkan jempolnya kepada Asibi, entah apa yang terjadi di antara mereka.

Tapi satu hal yang kutahu, sebelum ke sini Asibi meminta izin Akari untuk membawa beberapa benda dari ruang persenjataan NEST.

Satu jam sebelumnya, saat kami semua beserta para perwira NEST dikumpulkan di ruang konferensi. Namun alih-alih mengikuti rencana dari Akari, Asibi mengusulkan rencananya sendiri. Tentu saja para perwira bawahan Akari menentangnya, tapi setelah Asibi menjamin kalau perang ini akan selesai dalam beberapa jam dan hanya akan ada sedikit korban jiwa dari pihak NEST, mau tak mau mereka tergoda.

Toh kalaupun rencana ini tidak berhasil, pasukan NEST akan tetap bisa mundur dengan mudah.

Rencananya adalah, pasukan NEST harus terbagi dua untuk mencegat dua pasukan milik Saraph. Lalu di titik enam kilometer sebelum keluar dari batas kota, pasukan NEST diharuskan untuk menahan kedua pasukan Happy Holy Family selama beberapa jam.

Hanya ada satu syarat dari Asibi, yaitu ketika kedua pasukan milik Saraph mundur sampai ke plasa di depan menara hitam NEST tidak boleh mengejar atau mendekat.

Tentu saja, karena saat berkumpul kedua pasukan tersebut akan berjumlah sepuluh ribu, sedangkan total dua pasukan NEST hanya empat ribu personel.

Tapi itu bukan satu-satunya alasan...

Alasan kedua akan disebabkan oleh Asibi dan keempat reveriers lainnya, sayangnya Asibi tidak memberitahuku.

Sekarang kami sudah meluncur menuju lokasi pertama, stasiun kereta bawah tanah di titik tiga kilometer dari menara hitam. Kelima reveriers termasuk Asibi dan aku menumpang mobil lapis baja pertama, mobil ini juga berisi regu elit NEST Archer. Mengikuti di belakang adalah mobil lapis baja kedua, kendaraan tersebut berisi regu Assassin.

Tentu saja kedua regu ini diminta langsung oleh Asibi berdasarkan kemampuan khusus mereka, Archer dengan kemampuan menembak jitunya, dan Assassin dengan kemampuan infiltrasinya.


Near The Subway Entrance, 3 Click From Target Area, Friday, 08:25
Warna kelabu menggantung di langit, sementara itu deru angin membawa serta debu dan hawa panas. Di sekeliling kami terdapat puing-puing reruntuhan bekas gedung, namun tak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali.

Menurut para personel NEST, manusia di kota ini tinggal di gedung-gedung logam yang disebut menara. Tanpa perlindungan baik dari NEST atau Happy Holy Family, manusia hanya bisa menunggu ajal di kota ini. Bukan hanya dari kekurangan sumber pangan, tapi juga dari ancaman Partikel Kajima.

Kudengar Partikel Kajima ini dapat menyebabkan makhluk organik yang terinfeksi mengalami degenerasi ekstrim. Heh, bukan berarti partikel ini akan berpengaruh kepadaku. Bagi Asibi yang sedang memiliki bentuk fisik mungkin berpengaruh, tapi bagiku dan si Burung Hantu tua sama sekali tidak.

Saat ini kelompok kami yang berjumlah dua puluh sembilan orang berjalan perlahan menuju stasiun kereta bawah tanah, melalui puing dan reruntuhan gedung yang berserakan. Kendaraan lapis baja sudah kami tinggalkan sejak satu jam lalu, karena medannya mustahil untuk dilalui bahkan oleh tank.

Bersenjatakan senapan serbu dan senapan laras panjang berperedam, regu Archer memimpin kelompok kami menuju stasiun. Sementara itu regu Assassin berada di bagian belakang para reveriers, karena kemampuan mereka belum dibutuhkan saat ini.

Empat ratus meter dari jalan masuk menuju stasiun, Sersan Hiroshi dari regu Archer membawa kami berlindung di bekas sebuah toserba. Ia mencurigai sesuatu dan mengirim dua anak buahnya untuk mengintai daerah di sekitar jalan masuk.

"Hari ini kadar Partikel Kajima di udara terlalu tinggi," kata Sersan Hiroshi kepada para reveriers, "apapun yang terjadi, kalian harus berlindung bila baku tembak terjadi. Aku tak peduli meski kalian kebal peluru, satu saja tembakan menyerempet dan merobek pakaian anti-radiasi kalian, maka Partikel Kajima yang akan membunuhmu."

"Mereka kembali!" seru Asibi yang merunduk di dekat pintu masuk toserba, memberitahu kedatangan dua anggota Archer yang bersenjatakan senapan laras panjang.

"Megumi, Kazuo, bagaimana situasinya?" sambut Sersan Hiroshi segera setelah keduanya masuk ke toserba.

"Hanya terlihat delapan orang di sekitar jalan masuk, semuanya bersenjatakan senapan serbu," Megumi melapor.

"Dan kau, Kazuo?"

"Sekitar dua puluh meter dari pintu masuk, di dalam bekas sebuah toko dengan banyak manekin, di sanalah operator radio mereka."

"Baiklah, target prioritas adalah si operator radio, jangan biarkan mereka memberitahu keberadaan kita!"

"Tunggu!" sela Kazuo sebelum Sersannya memberi perintah untuk bergerak. "Ada dua orang lagi bersama operator radio, dan mereka bersenjatakan peluncur roket!"

"Hiroshi," kini Sersan Yoshirou dari regu Assassin angkat bicara, "kita harus mendapatkan kode lapor mereka juga waktu intervalnya. Kalau tidak, pihak menara akan sadar ada yang tidak beres bila kita membunuh mereka sembarangan."

"Namol, bukankah kau bisa menembus dinding?" tanya Asibi.

"Ya, tapi aku tidak mau," tolak Namol tanpa ragu. "Badanku terlalu besar, dan aku tidak mau mati muda!"

"Myeengun?" Asibi kini menatapku.

"Akan kulakukan," kataku yang langsung berjalan menembus dinding menuju lokasi operator radio musuh.

Tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan kode lapor mereka, namun untuk mendapatkan interval laporannya, itu butuh satu setengah jam untuk didapatkan.

Ah, ngomong-ngomong ini pertama kalinya aku melihat langsung penampilan dari para prajurit Happy Holy Family. Mereka mengenakan baju anti-radiasi yang transparan, namun dibaliknya mereka mengenakan jaket, celana, dan sarung tangan dari kulit. Semuanya berwarna hitam.

Entah apa fungsinya, mereka juga memakai helm hitam di balik pakaian anti-radiasi.

Segera setelah mendapatkan kode lapor dan intervalnya, lima penembak jitu regu Archer mengambil posisi di lantai tiga sebuah gedung di dekat jalan masuk, sementara itu tiga personel regu Assassin mendekati operator radio dengan bersenjatakan pistol berperedam.

Satu persatu dari delapan lawan yang berjaga di depan jalan masuk stasiun pun tumbang, mereka bahkan tak diberi kesempatan untuk bereaksi atas hujan peluru dari para penembak jitu regu Archer. Operator radio lawan yang panik juga tak sempat melapor, karena tiga anggota regu Assassin menghabisinya berikut dua orang yang bersenjatakan peluncur roket.

Dua tembakan di kepala dan dua tembakan di dada, begitulah cara regu Assassin menghabisi si operator radio dan dua rekannya.

Saat kami akan melanjutkan perjalanan melalui stasiun kereta bawah tanah, Sersan Yoshirou meninggalkan tiga anggotanya untuk menempati posisi operator radio lawan.

"Souma, Ryo, dan Nobu, kalian tetap di sini dan beri mereka laporan sesuai intervalnya, dengan begitu mereka tak akan sadar kalau kita sudah menginfiltrasi wilayah ini!" perintah Sersan Yoshirou kepada ketiga bawahannya.

Sebelumnya kelompok kami berjalan dengan berhati-hati dan sangat lambat, namun bukan berarti perjalanan yang dilalui bisa dibilang pendek. Aku melihat si nenek narsi mulai kehabisan stamina, ia memegangi pinggulnya dan terengah-engah.

Aku menggigit pakaian Asibi dan menariknya untuk memberi tahu, kemudian ia memberitahu Bian.

"Nek," panggil Bian yang kini berjongkok memunggungi Martha, "biar kugendong Nenek sampai di tempat tujuan."

"Wah, makasih banyak, Cu~"

Tanpa ragu si nenek narsis pun mulai menunggangi punggung si pemuda pirang, tak lupa ia mengambil beberapa foto bersama Bian.

Sementara itu, ada satu lagi orang tua yang kesulitan bergerak. Ia terbatuk-batuk dan merangkak, napasnya tersengal hingga ia kesulitan bicara. Namun karena ukuran tubuhnya, tidak ada yang mau sukarela menggendongnya.

Untungnya regu Archer lumayan kreatif, mereka mengubah tenda menjadi tandu besar, lalu empat orang prajurit pun menggotong Mbah Amut yang nyaris tewas kehabisan napas.

Untuk member reveriers terakhir dalam kelompok ini, Namol yang sedang berjalan nampak sibuk bertengkat dengan peri kecil yang melayang di sekitarnya.

"Coba kalau kau bawa Heppow, kau enggak akan kelelahan kayak gini!"

"Ayolah Pupp, kalau aku bawa cacing itu, ukuran tubuhnya akan menarik perhatian musuh dan kita semua bakalan mati dari tadi," bantah Namol di sela napasnya yang terengah.


Black Tower Underground Entrance, Friday, 11:02
Sesuai dengan keterangan NEST, seluruh terowongan bawah tanah di wilayah ini sudah runtuh, mungkin akibat peperangan yang lalu. Meskipun begitu, masih ada lorong-lorong kecil yang bisa dilalui tiga orang sekaligus.

Jadi walaupun terowongan bawah tanah ini tidak ideal untuk dilalui pasukan berjumlah besar, regu kecil seperti kelompok kami masih bisa melaluinya dengan mudah.

Tepat di pintu masuk menuju menara hitam, ada empat musuh lagi yang berjaga, plus satu operator radio dan dua rekannya. Tetapi karena lokasinya yang agak terbuka, kali ini strateginya berbeda.

Aku berlari menuju para penjaga bersenjata itu, menarik perhatian mereka sementara para penembak jitu menghabisi operator radio dan dua rekannya lebih dulu. Setelah itu barulah mereka menghabisi sisa para penjaga.

Sampai di sini Asibi yang memberi instruksi, karena semua ini memang bagian dari rencananya. "Sersan Hiroshi, kau dan orang-orangmu menunggu di tempat ini. Jaga tempat ini, karena ada kemungkinan kita semua akan menggunakan jalur ini untuk kembali. Sersan Yoshirou, kau dan orang-orangmu akan membantu sampai lobi."

"Bagaimana dengan pasukan Happy Holy Family yang di dalam menara?" tanya Sersan Yoshirou.

"Saat kita memasuki menara, mereka akan tahu dari kamera pengaman. Kau ambil alih lobi dan bentuk parimeter pertahanan di sana, lindungi area itu sampai Martha selesai melakukan tugasnya. Sementara itu, aku dan Bian menuju lantai paling atas, sedangkan Namol dan Amut akan menuju lantai dua puluh empat ke ruang komunikasi."

Di saat itu pula si Burung Hantu tua muncul, sejak pagi Asibi memintanya untuk mengawasi pergerakan Merald.

"Merald ada di menara ini," lapornya kepada Asibi, "dan dia ada di lantai dua empat."

Asibi memberikan ranselnya kepada Martha, si nenek narsis pun membawanya dengan menyeret benda tersebut. "Sedikit perubahan rencana, Bian, kau bantu regu Assassin di lobi. Aku akan pergi bersama Namol ke lantai dua empat."

"Bagaimana dengan Amut?" tanya Namol melirik si naga tua yang masih tergeletak di atas tandu.

"Biarkan dia istirahat dulu di sini bersama regu Archer, setelah itu dia bisa bergabung dengan regu Assassin di lobi."

Setelah itu kami semua nik lift.

Terkecuali Martha, semua sudah melepaskan pakaian anti-radiasi masing-masing, dan kami menitipkannya kepada regu Assassin yang akan menunggu di lobi.

Tak lama sampai pintu lift kembali terbuka, regu Assassin langsung menyerbu keluar dengan senjata mereka. Martha menyeret ransel pemberian Asibi, sementara Bian langsung terbang keluar mencari musuh.

Tinggal aku, Asibi, dan Namol di dalam lift.

Ditemani musik aneh yang monoton...

Lama dan membosankan...


A Long, Long, Long While Later...
Akhirnya kami tiba di lantai dua empat.

Asibi memberikan sebuah benda persegi panjang kepada Namol. "Ini bom plastik, kau tanamkan di ruang komunikasi. Sementara itu, aku akan coba melindungimu dari Merald."

"Bagaimana dengan personel militer di lantai ini?" tanya Namol dengan wajah kuatir.

"Mereka semua sudah mati, Merald membunuh mereka," jawab Asibi yang sudah menerima laporan situasi dari si Burung Hantu tua.

Benar saja, saat kami bertiga masuk ke ruang komunikasi yang cukup luas, Merald menyambut kami. Di sisinya terdapat seekor naga berukuran besar.

"Hai manis, mau bersenang-senang denganku?"

Namol yang baru saja hendak menyingkir tiba-tiba menoleh. "Kau bicara denganku?"

"Heh, Kribo, tentu saja bukan!"

"Asibi, apa kau masih belum bisa memanggil Wendigo?" bisikku di sisi Asibi.

"Belum," Asibi menggeleng, "tapi aku menyadari sesuatu, aku mulai bisa merasakan hasrat dan keinginan orang lain."

Gwekendam, kemampuan Asibi untuk membaca hasrat dan keinginan manusia. Kenapa malah kemampuan itu yang muncul duluan? Apa gunanya kemampuan itu melawan pawang naga?

"Heh, manis-manis kok sombong, disapa enggak jawab!" dengus Merald sambil memberi isyarat agar naganya maju. "Serang, Bro!"

Di saat yang sama aku juga berlari maju, namun alih-alih menuju si naga, aku berlari menuju Merald. Saat jarak cukup dekat, aku pun melompat, memperlihatkan taringku yang akan tertanam di leher Merald. Namun alih-alih ekspresi takut, malah seringai yang terlihat di wajah Merald.

Di saat itu si naga melontarkan bola api dari mulutnya.

Sayang hal itu tidak akan menghentikanku, bola api tersebut melaju menembus tubuhku lalu meledak di salah satu panel komunikasi. Si naga terlihat kaget dan bingung.

Seringai barusan pun menghilang dari wajah Merald, berganti dengan ekspresi ngeri saat ia melihat rahangku yang terbuka. Tapi aku tak melanjutkannya, aku berhenti tepat dihadapan Merald yang kini jatuh terduduk dan ketakutan. Sekarang dia sadar, dalam jarak ini bahkan naganya tak akan bisa membantu kalau aku ingin membunuhnya.

Hal itu tidak akan terjadi, aku tidak bisa dan tidak mau menyerangnya. Barusan hanya gertakan, lagipula taringku hanya akan menembus tubuhnya tanpa melukai. Aku tak bisa menyentuh atau melukainya.

Tetapi bukan berarti si naga akan diam saja, buktinya ia langsung menyerangku lagi. Kali ini ia mengayunkan cakarnya ke arahku, namun Asibi yang sudah berada di antara kami mulai beraksi. Ia menepis cakar si naga dan membelokkan ayunan cakar si naga, yang berikutnya terjadi cakar tersebut menghancurkan lantai dan tertanam tepat di sisi Merald.

"Oi, naga sialan, kau mau membunuhku?!" protes Merald yang kini berguling kemudian bangkit.

Kulihat di dekat pintu masuk ruangan sepertinya Namol sudah selesai, ia mengacungkan jempol kepada Asibi sebelum tubuhnya menembus lantai untuk turun menuju lobi. Sialan, jurus yang berguna sekali untuk kabur!

Bukan berarti aku iri, aku juga bisa. Tapi aku tidak mampu menyentuh benda sama sekali, atau aku yang melakukan semua ini sendiri.

Si naga yang masih penasaran kembali melancarkan beberapa serangan, kuhindari serangan fisik sementara kubiarkan serangan apinya menembus tubuhku. Aku tidak bisa membiarkan Merald dan naganya sadar kalau aku tidak bisa menyerang atau diserang, atau pertarungan ini akan berubah menjadi Asibi melawan keduanya.

Di sisi lain, Asibi terus menepis dan membelokkan serangan pisau dari Merald, tak satupun serangan wanita itu yang mengenai Asibi.

Ini adalah pertarungan satu arah, di mana kami berdua membiarkan lawan terus menyerang sementara kami menghindar. Tentu saja manuver ini tak selalu berjalan lancar, sesekali akan ada serangan nyasar.

Sebuah bola api yang menembus tubuhku meluncur menuju Asibi dan Merald, wanita itu berhasil menghindar tepat waktu saat bola api tersebut meledak. Kepulan asap bercampur debu menyeruak dari sumber ledakan.

"Brengsek kau, Rea, hati-hati dong!"

"Berisik, cewek sialan! Kau kira gampang melawan anjing keparat ini? Coba saja kau yang lawan!" balas Rea si naga api.

"Maaf, tapi aku serigala..."

"Diam kau, anjing kampung!" hardik Rea sambil menggeram.

"Kau tak apa, Asibi?" tanyaku kepada rekanku yang baru muncul dari balik kepulan asap dan debu.

"Yep!" ia menjawab seraya tersenyum, namun darah mulai bercucuran dari sela bibirnya.

Aku pun menghela napas panjang, kemudian bergumam, "Penampilanmu sama sekali tidak meyakinkan..."

Merald kembali melancarkan serangan, ia masih berusaha menikam Asibi dengan pisaunya. Rea juga masih bernapsu untuk membunuhku, ia mencakar, mencambuk dengan ekor, menanduk, dan berusaha membakarku. Namun baik serangan Merald ataupun Rea tak dapat menyentuhku dan Asibi.

Sampai saat Asibi tersenyum kepadaku, menandakan kalau ia hendak mengakhiri pertarungan ini. Aku mengangguk sebelum memancing Rea untuk melontarkan semburan apinya lagi.

Di sisi lain Asibi mulai berlari memutar, menuju arahku yang sedang menghindari semburan api dari Rea si naga api. Setelah cukup dekat ia berhenti dan bersiap menerima serangan Merald, lalu dengan gerakan memutar Asibi menepis dan membelokkan tikaman dari Merald.

Merald yang serangannya dialihkan pun hilang keseimbangan dan jatuh, di saat yang sama Rea kembali menyemburkan apinya ke arahku. Rea terlambat menyadari kalau saat ini tubuhku berada di antara dirinya dan Merald, semburan apinya tentu saja akan menghantam Merald setelah menembus tubuhku.

Suara dentuman pun terdengar...

"Merald!" teriak Rea kepada wanita yang berada di pusat ledakan.

Pada saat yang sama, Asibi memanfaatkan situasi untuk berlari menuju lift. Setelah menendang pot tanaman yang mengganjal pintu lift, ia segera menutup pintu dan menekan tombol lantai dasar. Aku mengikuti dengan cara menembus lantai langsung menuju lift yang sedang bergerak turun.


Black Tower Lobby, Friday, 14:12
Regu Assassin tidak sanggup menahan parimeter hanya dengan anggota mereka sendiri, maka sejak setengah jam sebelum aku dan Asibi tiba, regu Archer meninggalkan pos mereka untuk membantu di lobi.

Saat kami berdua tiba di lobi, kedua regu terus melepaskan tembakan dari balik meja resepsionis yang berlapis baja. Bian terlihat terbang ke sana kemari, terus melepaskan tinju dan membuat personel lawan tak sadarkan diri. Sementara Amut, ia berlarian sambil berteriak dan mengayunkan cakarnya kepada siapapun lawan didekatnya.

"Tong lulumpatan, jurig! Kadieu siah, dikadék ku aing!" teriaknya sambil terus mangayunkan cakarnya dan menebas siapapun dalam jangkauannya. Dari ayunan cakarnya terlihat seberkas cahaya yang terkesan memperpanjang jangkauan cakar Amut.

Sambil merunduk, aku dan Asibi mendekati dua regu yang bertahan di balik meja besar resepsionis, di sana juga terlihat Martha yang sedang berlindung. Si nenek kemudian menyerahkan ransel yang hampir kosong di tangannya kembali kepada Asibi, si nenek terkekeh.

"Hihihihi, nenek sukses loh, Cu~"

"Terima kasih," jawab Asibi tersenyum kepada Martha.

Sebuah kotak agak besar dikeluarkan Asibi dari dalam ransel, setelah penutupnya dibuka, terlihat banyak tombol dalam kotak tersebut. Asibi menekan satu tombol, kemudian suara dentuman terdengar dan membuat ruang lobi bergetar.

Kotak itu... Detonator nirkabel...

"Asibi..." gumamku yang kuatir akan getaran barusan.

"Tenang, itu barusan bom di lantai dua empat, ruang komunikasi. Dengan ini jalur komunikasi Saraph dan pasukannya akan terhambat," tutur Asibi. "Dalam perang modern yang paling penting adalah komunikasi antar rantai komando. Kira-kira apa yang akan terjadi kalau jalur komunikasi suatu pasukan terputus?"

"Kekacauan, dan pengambilan keputusan akan tertunda tanpa ada perintah jelas dari rantai komando," jawabku atas pertanyaan Asibi.

"Benar, tapi bukan itu saja. Kacaunya rantai komando akan membuat pasukan militer mundur berdasarkan pelatihan mereka, dan di sanalah pestanya dimulai," lanjut Asibi yang menyeringai sambil menepuk bahu Martha. "Sejak tiba di lobi, aku menugaskan Martha untuk menanamkan banyak bom plastik di seluruh plasa di depan menara ini. Martha memiliki kemampuan untuk bergerak bebas tanpa terdeteksi musuh."

Ah... Aku ingat saat si Burung Hantu tua melaporkan pasukan Saraph berkumpul di plasa depan menara hitam, di tempat itu pula pasukan tersebut akan mundur dan berkumpul bila terjadi sesuatu.

Suara geraman terdengar di sebelahku, disusul suara napas yang tersengal. Amut tergeletak di dekatku, satu tangannya memegangi pinggulnya. Hanya Bian yang masih terlihat bertempur, dengan satu ayunan tinju ia membuat satu lawan terpental hingga menabrak dua lainnya.

"Gak ku ku lah, nyareri cangkeng, Gustiii!" keluh Amut yang masih terbaring lemas, wajahnya seakan terlihat lebih tua beberapa dekade.

Tak lama kemudian radio dari regu Assassin mulai berbunyi.

"Di sini Kolonel Akari, Sersan Yoshirou kau bisa mendengarku?"

"Di sini Yoshirou, terdengar jelas, Kolonel!"

"Pasukan Saraph mulai mundur, laporkan situasi di sana!"

"Kami membuat parimeter pertahanan di lobi menara hitam, ruang komunikasi sudah dihancurkan! Tiga dari kami terluka, tapi tidak ada yang serius!"

"Bagus, tetap pertahankan parimeter! Dan Yoshirou..."

"Ya, Kolonel?"

"Yoshirou... Jangan mati..."

Sersan Yoshirou pun tertawa, sambil mengelus jenggotnya ia kembali berkata, "Apa itu perintah, Akari?"

"Oi-oi, kalian berdua, ini jalur komunikasi resmi militer, cari kamar sendiri sana!"

"Diam kau, Yamada! Mau kuberi demosi menjadi mayor?"

"Hamba minta maaf, tolong jangan..."

Setelah itu giliran Sersan Hiroshi yang memberi komando. "Regu Archer dan Assassin dengarkan, Kolonel telah memberi perintah; pertahankan parimeter dan jangan sok jadi pahlawan, jangan mati tanpa seizinku!"

"OU!" teriak kedua regu elit NEST, suara mereka menggema di seluruh ruang lobi.

"Sersan Hiroshi," panggil Asibi kepada pimpinan regu Archer. "Sebentar lagi pasukan Saraph akan tiba di plasa, dan sudah pasti Saraph dan pasukan utamanya akan mencoba masuk ke tempat ini. Kalau gerbang lobi sampai terbuka, kelompok kita tak akan mampu menahan gempuran mereka."

"Jadi, apa saranmu?" tanya Hiroshi.

Asibi menunjuk ke gerbang baja yang memisahkan lobi dan plasa di luar menara hitam, ke panel kendali di sebelah gerbang tersebut untuk lebih tepatnya. "Aku ingin kau meretas panel kendali itu, jangan sampai mereka membuka gerbang baja yang melindungi lobi ini."

"Megumi, Kazuo, kalian ikut aku! Sisanya dari regu Archer, kalian beri tembakan perlindungan untukku!"

Kedua personel yang namanya disebutkan oleh Hiroshi pun mengganti senjata mereka dengan senapan serbu, lalu sambil merunduk mereka berlari di belakang Sersan Hiroshi.

"Bian!" teriak Asibi kepada si pemuda pirang. "Kau lindungi Sersan Hiroshi, jangan biarkan ada personel musuh yang mendekati mereka!"

"Oke!" jawabnya sambil melayang di sekitar Hiroshi. Beberapa kali pemuda itu menghadang lintasan peluru yang diarahkan ke Hiroshi, lalu melesat untuk menghajar musuh yang mendekat.

"Tunggu, di mana Namol?" tanya Asibi yang hanya bisa kujawab dengan gelengan kepala.

"Di sini," jawab Namol, kepalanya menyembul keluar dari dalam lantai.

"Hei, kau tidak ikut membantu?" tanyaku kepada si kribo.

"Ogah, aku masih masih mau hidup!" tolaknya seraya kembali membenamkan diri ke dalam lantai.

Sepuluh menit berlalu, dan Sersan Hiroshi sudah kembali bersama dua bawahannya.

"Berhasil diretas?" tanya Asibi.

"Kau gila? Mana mungkin aku meretas panel kendali dalam sepuluh menit!"

"Lho terus?"

"Aku menghancurkan panel kendalinya, kemudian kubom jalur kabel powernya," tutur Hiroshi tersenyum.

"Baiklah, itu juga bisa berhasil, gerbangnya tidak mungkin beroperasi tanpa ada suplai tenaga listrik," gumam Asibi.

Radio komunikasi kembali berbunyi.

"Di sini Kolonel Akari, Seraph dan pasukannya sudah dalam posisi bertahan di plasa. Tapi tidak akan bertahan lama, setelah rantai komando mereka pulih, mereka sepertinya akan kembali maju untuk menekan gempuran kami!"

"Bagaimana dengan posisi pasukanmu, Akari?" tanya Yoshirou melalui radio.

"Kami berada dalam jarak delapan ratus meter dari plasa!"

"Jaraknya sudah cukup," gumam Yoshirou. "Semuanya dengarkan! Berkumpul dan kenakan kembali pakaian anti-radiasi kalian, sekarang kita mundur ke tangga darurat menuju ruang bawah tanah!"

Sesuai komando, semua kembali mengenakan pakaian anti-radiasi masing-masing, termasuk Bian yang kini sudah kehabisan lawan di dalam lobi.

Asibi kembali membuka kotak detonator nirkabelnya, lalu mulai menekan tombol di sana satu persatu.

Suara dentuman terdengar bersahut-sahutan, semakin banyak dan semakin keras. Ruang lobi pun bergetar semakin hebat, sampai akhirnya ledakan terakhir merubuhkan gerbang lobi.

Dengan runtuhnya gerbang baja, dari lobi kini terlihat jelas pemandangan plasa. Asap hitam ada di mana-mana, mayat-mayat manusia bercampur serpihan robot berserakan di seluruh area. Entah apa yang dipikirkan Asibi saat ini, ia hanya berdiri mematung memandangi kehancuran di hadapannya. Wajahnya tersembunyi dibalik topeng kaca dari pakaian anti-radiasi yang dikenakan, jadi aku juga kesulitan melihat ekspresinya.

"A~ah... Kalian manusia memang sulit sekali diatur," tutur sebuah suara yang menggema, lalu dari balik tumpukan mayat dan sisa-sisa serpihan robot terlihat sesuatu yang bangkit.

Rangka logam tubuhnya terlihat ramping dan ringkih, dari seluruh tubuhnya juga memancar uap hitam terus menerus. Di dadanya terlihat pendar cahaya kemerahan.

"Kalau aku memang tidak bisa mendisiplinkan kalian, mari kita hancur sama-sama!"

Sekejap setelah ia selesai bicara, Saraph tiba-tiba sudah berada di hadapan Asibi, lengannya terangkat tinggi dengan tinju terkepal. Asibi tidak sempat bereaksi, begitu juga denganku.

Suara dentuman akibat hantaman logam terdengar...

Tetapi bukan kami yang terkena hantaman...

Saraph terpental hingga menghantam dan tubuhnya tertanam dinding lobi, terlihat banyak retakan yang berbentuk seperti sarang laba-laba dari sana.

Sesosok raksasa logam berdiri di hadapan Asibi, tingginya lebih dari dua meter. Aku mengenali sosok ini, karena ini adalah bentuk dari zirah tempur mekanik milik Akari. Sebelum berangkat memimpin pasukannya, Akari mengenakan zirah ini sejak kami masih berada di hanggar.

"Yoshirou, bawa semuanya pergi dari sini! Yamada, bawa pasukan mundur sejauh mungkin! RAVEN baru saja menghubungiku, sensor NEST menangkap fluktuasi Partikel Kajima dan energi tak dikenal dari tubuh Saraph! Kalau hal ini terus terjadi, Saraph akan hancur dengan radius ledakan yang tidak bisa diperkirakan!"

"Akari, bagaimana denganmu?" tanya Yoshirou.

"Aku akan tetap di sini dan menahan Saraph sampai kalian berada di jarak aman!"

Yoshirou meludah. "Hiroshi, bawa semuanya pergi lewat jalur bawah tanah! Megumi, berikan aku senapan serbu dengan peluncur granat, berikan aku juga beberapa magazen berisi AP rounds!"

Setelah melemparkan semua yang diminta sang sersan, Megumi pun berlari mengikuti rombongan yang dipimpin Sersan Hiroshi menuju ke terowongan bawah tanah.

Aku menoleh, kembali menonton pertarungan antara Akari dan Saraph, pertarungan antara dua raksasa logam. Keduanya saling meninju, saling menangkis, saling menendang. Sesekali kalau jaraknya cukup jauh, Akari melepaskan beberapa tembakan yang disusul sabetan pedang dari tangan kirinya.

"Kau tidak ikut mengungsi?" tanyaku kepada Asibi yang masih mematung.

"Kalau radius ledakan Saraph setara dengan bom atom, tidak akan ada gunanya kita berlari. Tidak akan ada cukup waktu sejauh apapun kita berlari. Lagipula... Coba kau lihat pasangan bodoh itu," tunjuk Asibi kepada Yoshirou yang barus saja berlari melewatinya menuju Akari.

"Yoshirou, apa yang kau lakukan?!" teriak Akari seraya menangkis beberapa tinju dari Saraph.

Yoshirou melepaskan tembakan dari peluncur granat, Saraph yang telak terkena di bagian bahu kini limbung. Akari memanfaatkan itu untuk menendang dada Saraph, ia juga memanfaatkan momentum dari tendangan barusan untuk menjauh. Tak lupa ia melepaskan beberapa tembakan saat tubuhnya masih melayang.

"Hei, kalau kau mati, aku juga mati..." Yoshirou tersenyum.

Melihat Yoshirou yang menenteng senjata, Saraph pun tertawa. "Ada satu lagi manusia yang ingin didisplinkan, akan kuhancurkan kau lebih dulu!"

Saraph melesat menuju Yoshirou dan mengayunkan tinjunya.

"Yoshirou!" teriak Akari, suaranya terdengar putus asa, ia langsung melesat menuju Saraph.

Tentu saja, jaraknya dengan Yoshirou terlalu jauh, jadi mana mungkin ia bisa menyelamatkan sersan itu.

Heh, tapi bukan berarti si sersan akan mati, Asibi sudah ada di sisinya. Rekanku itu kemudian mengayunkan kaki kanannya tinggi ke udara, lalu menendang lengan Saraph—dengan sol sepatu yang menyatu dengan pakaian anti-radiasinya—sekeras mungkin.

Tinju Saraph pun meleset, kepalan tangannya melesat beberapa centi dari atas kepala Yoshirou. Kecepatan tinju dan kekuatan Saraph seakan merobek udara, terdengar suara siulan saat tinjunya melintas.

Sebelum Saraph sempat melancarkan serangan berikutnya, Akari beserta zirah tempur mekaniknya tiba. Ia melompat lalu memutar tubuhnya, dengan momentum tersebut ia menyapukan tendangan tepat ke kepala Saraph.

Suara dentum logam beradu terdengar, yang kemudian diiringi suara derak dari sesuatu yang retak.

Saraph terpelanting jauh dari Yoshirou, tubuhnya berputar beberapa kali di udara sebelum jatuh tepat di posisiku berdiri. Tubuh Saraph menembusku dan menghancurkan lantai, untuk kemudian kembali memantul ke udara dan berguling hingga berjarak seratus meter dariku.

"Hei kalian bertiga," panggilku yang masih tidak bergerak dari tempat semula, "aku melihat ada pendar cahaya di dalam dada makhluk kaleng itu. Kenapa tidak kalian coba serang dan hancurkan itu, siapa tahu ia tak jadi meledak nanti?"

"Lebih baik daripada tak mencoba sama sekali," sahut Yoshirou seraya mengisi ulang dan mengokang peluncur granat yang tertempel di senapan serbu miliknya.

"Akari, kau bisa pancing hingga Saraph melayangkan pukulan?"

"Bisa kucoba..."

"Yoshirou, apa kau bisa menahan berat tubuhku? Aku ingin menjadikanmu landasan untuk melompat."

Sepertinya Asibi memiliki rencana...

Heh, menarik, aku akan duduk dan menonton dari sini.

Akari yang melesat lebih dulu, ia menyambut serangan Saraph. Di belakangnya Yoshirou dan Asibi berlari menyusul.

Lalu saat yang dinantikan pun tiba, Seraph menarik lengan kanannya ke belakang dan hendak melayangkan tinjunya kepada Akari.

"Yoshirou!" teriak Asibi sambil mengambil posisi berlari tepat di belakang si sersan.

Lalu bersamaan dengan berhentinya Yoshirou yang sedikit merunduk, Asibi melompat, menggunakan kaki kiri untuk bertolak dari pinggul si sersan, kemudian kaki kanan untuk bertolak dari bahu Yoshirou dan melompat tinggi.

Tinju Saraph sudah setengah jalan, Akari mengelak ke kiri, sementara Asibi—menggunakan berat tubuhnya saat jatuh dari lompatannya barusan—sekuat mungkin ia menginjak lengan Saraph.

Dengan itu lintasan tinju Saraph melenceng agak menyerong ke bawah, membuatnya hilang keseimbangan.

Sementara itu momentum dari pukulan Saraph membuat Asibi terpelanting dan berputar di udara. Tidak seperti saat menapak di tanah, ia tak bisa menjadikan apapun selain berat tubuhnya sebagai jangkar. Akibatnya—berat tubuh Asibi yang tak seberapa bila dibandingkan dengan Saraph—membuat Asibi terbawa momentum serangan Saraph dan terpental.

Aku pun bergerak.

Tubuh Asibi berputar beberapa kali di udara, sebelum terbanting ke lantai dan kembali terpantul ke udara. Aku melompat dan menjadikan tubuhku sebagai bantalan Asibi dan meredam benturan.

Di saat yang sama, Akari kembali memanfaatkan hilangnya keseimbangan Saraph, ia yang sudah mengambil posisi di sebelah kiri, mencengkeram leher Saraph dengan tangan kanan, lalu dengan kaki kanan ia membentuk kuda-kuda rendah sekaligus menjegal kaki lawannya dari belakang.

Saraph jatuh terlentang, dengan tangan kanan dari zirah Akari masih mencengkeram leher logamnya.

Yoshirou melepaskan tembakan dari peluncur granat tepat ke dada Saraph. Ledakan pun terjadi, sayangnya itu hanya berhasil membuat retak dada Saraph.

Tanpa memberi kesempatan Saraph untuk bereaksi, Akari sudah melepaskan cengkeramannya, dan kini ia mengangkat tinggi kaki kanannya.

"HAAAAAGH!"

Suara dentuman menggema...

Awan debu mengepul, disertai serpihan lantai yang terbang ke segala penjuru.

Tercipta kawah kecil di bawah tubuh Saraph, dan retakan menyebar dari sana ke berbagai arah di lantai lobi. Kulihat kaki zirah Akari bersarang tepat di dalam dada lawannya, mungkin juga sampai menembus lantai, tapi sulit terlihat dari posisiku di sini.

Cahaya merah di mata Seraph berkedip beberapa kali, semakin lama semakin redup, sampai akhirnya...

Gelap.

"Tidak jadi meledak?" tanya Asibi dengan suara lirih, tubuhnya terbaring di dekatku. Dari yang kulihat, sepertinya tangan dan kaki Asibi patah di beberapa tempat, belum termasuk tulang rusuk dan bahunya.

Selain retak di bagian kaca pelindung kepala, aku bersyukur pakaian anti-radiasi Asibi cukup tangguh dan tidak ada bagian yang robek.

Aku menempelkan moncongku sisi kepala Asibi, lalu berbisik, "Sepertinya tidak. Sekarang kau tidurlah dulu, nanti akan kubangunkan kalau kau sudah cukup beristirahat."


Meanwhile... NEST's Hangar, Friday, 16:05
Kelima domba milik para reveriers sedang bermain poker, di dekat Heppow yang terus saja berteriak lapar. Wiijishimotawaa Gookooko'oog juga ada di sana, Asibi memintanya kembali untuk mengawasi para domba setelah ia selesai memberi laporan di menara hitam beberapa jam yang lalu.

Sekarang domba milik Asibi menunjukkan kartu straight flush keriting, keempat domba lainnya pun sontak membanting kartu mereka.

Setelah itu mereka semua merasakan sesuatu dan mulai mengembik secara bersamaan...

---

>Cerita sebelumnya : [PRELIM] 28 - ASIBIKAASHI | MIMPI DAN ILUSI
>Cerita selanjutnya : -

16 komentar:

  1. karakterisasi yang lain kurang tergali. seperti misalnya nenek selfie. padahal nenek selfie itu nenek2 yg kocak dan kemampuannya menarik tp di sini jd terkesan seperti nenek2 biasa.

    dialog mbah amut menarik sih. bisa mewakili karakter mbah amut. tapi saya nggak ngerti itu dialog apa jd saya skip. dan mungkin itu nggak terlalu penting...

    masih dg pov sama seperti prelim ya. smua kejadian dilihat dari sudut pandang si pet.

    ditutup dg sedikit komedik. domba2nya cerdas juga ya. menurut saya lucu juga meski nggak terlalu berkaitan dengan cerita utama.

    8

    BalasHapus
  2. Fata - Po

    - kayaknya Asibi dan kawan2 jadi punya kelemahan yg menyusahkan dalam menulis. Soalnya Asibi punya gak bisa nyerang dan cuma bisa nahan. Padahal yg kuliat dari entri2 dulu, salah satu ciri khas Mas Zoel itu adalah pertarungan PoV 1 yg terkesan genting utk si tokoh yg menarasikan. Dan ciri khas itu keren bgt. karena di sini PoV1nya dari Myeengun sementara Myeengun sendiri gak bisa luka, kesannya kurang terdesak situasinya. Kalau aja PoV1nya bisa diganti2 antara Myeengun dan Asibi, mungkin karakter Asibi bisa jauh lebih tergali. apalagi solusi ini bisa membuat revealing moment atau crowning moment bagi Asibi. Misal PoV1 Myeengun lagi penasaran sbenernya apa maksud Asibi dgn pesenin ke pasukan spy ini itu. Eh ternyata belakangan ketauan dari PoV Myeengun bahwa jalur komunikasi terputus itu hasil siasat Asibi. begitu PoV-nya pindah ke Asibi, narasinya bisa ngejelasin "ternyata siasat gue berhasil. Tapi si musuh kok malah beginidan begitu?" dsb. Providing some insight into the main character's mind.

    - handicap kedua yg menyulitkan Mas Zoel sendiri, adalah restriksi Asibi dalam pertarungan fisik. Ini membuat Asibi susah. Menurutku ada baiknya nanti di suatu saat Asibi dikasih pisau kecil yg jika megang pisau itu maka dia bisa nge-assassinate di saat2 yg bener2 perlu. Nggak perlu menghilangkan ciri khas Asibi yg pengen melindungi atau pengen damai, cuma di saat2 tertentu aja. Oh, dan kyknya Asibi wujudnya kan ada aspek fisiknya ya. Misal di dalam dunia BoR ini dia belum bisa luka, kyknya bakal lebih keren lagi kalo ada kejadian plot yg bikin sang kehendak atau zainurma atau apapun mengekang kekuatan spiritual dia dan ngejadiin Asibi bisa luka sampe 3-4 ronde ke depan misalnya. Utk nambah kegentingan,.

    - Untuk makhluk spiritual, Asibi ini masih nanggung mau ngarahin karakternya, mau ke arah ahli strategi kuno atau ahli strategi modern. Karena kalo mau dijadiin ahli strategi modern, mnurutku agak kurang pas dengan traitnya dia yg punya macem2 binatang spiritual. Menurutku bakal lebih pas jadi ahli strategi jaman kuno ala...Petyr Baelish Game of Thrones misalnya. Yang mana strateginya utk mengirim burung hantu tua sebagai scout lebih dijabarkan baik dalam narasi atau dengan dialog2 yg punya kesan etnik atau istilah kultural sendiri kayak "Varys' Little Birds" atau "The walls have eyes". Bisa aja di suatu entri, Asibi terkesan selalu sendirian tapi ternyata di akhir2 malah ketauan bahwa dia udah nanam perangkap di mana2 dengan bantuan burung hantu tua dan Myeengun yg ngadu domba semua pihak atau masang ensnaring trap ala Warcraft di lingkungan pertempuran.

    Skrg poin kerennya. Kesan militeristiknya Mas Zoel akhirnya ada lagi di BoR 6 aseeek. Makanya aku usulin spy Asibi dapet pisau supaya seenggak2nya bisa ngasih peran di combat, baik sebagai pemimping tim yang ngasih hand-signs di penyerbuan (keingetan Yvika terus nih) ataupun hand-to-hand combat.karn toh kadang utk melindungi harapan, kita gak bisa ngehindar utk ngancurin harapan org lain jg kan.

    - yang mana berangkat lagi ke usulku selanjutnya. Misalkan Asibi adalah spirit dan semua hewannya jg spirit dan mereka sebetulnya adalah satu kesatuan dgn alam, kira2menarik nggak misalnya Asibi bisa Warging kayak Bran ke Hodor, sehingga Asibi bisa ngeliat dari mata Myeengun atau burung hantu tua, tapi statusnya pindah. Misal Asibi warging ke Myeengun, Myeengun jadi bisa nyerang fisik sebagai serigala tapi juga jadi punya wujud fisik yg bisa dilukai. Sehngga combatnya Asibi bisa sebagai serigala, burung hantu..dan begitu musuh mau nyerang Asibi yg lagi dalam medium Myeengun dan mengira bahwa Myeengun bisa diserang secara fisik, ternyata Asibi udah pindah spirit ke vurung hantu tua sehingga Myeengun kembali menjadi intangible. Dan ini bisa bikin strategi berlapis utk combat sekaligus nuker2 PoV dengan sangat liar.

    Kebanyakan usulnya ini komen. Nilai dariku 8.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Entah kenapa saya ngerasa tiap pak po komen kayak jadi berusaha nyuntikin idealisme pak po sendiri ke tiap entri yang bersangkutan, semacem versi yang pak po pengen dari penulis itu dan kurang terwujud di entri yang dikomenin. Kadang saya jadi mikir, kenapa ga pak po aja yang nulisin entrinya kalo sampe didikte gini?

      #kabur

      Hapus
    2. Kyknya ini rare instance di mana MaSam meluangkan komen bukan utk entri tapi komen utk komen. Kalau MaSam belum tau,ini namanya usulan supaya entri yg dikomen jadi lebih baik. Lebih baik menurut versi siapa, ya pastinya menurut versi idealisme masing2. Toh meski MaSam jarang ngasih solusi gmn caranya supaya penulis lain bisa tambah bagus, kritik atau pujian dari MaSam nggak pernah lepas dari idealisme pribadi sendiri Yg pengen disuntikin ke masing2 entri. Cuma bedanya MaSam sebatas menilai dan mendikte, sementara aku coba ngasih usul yang emang menurutku bakal tambah ngebagusin entrinya. Kenapa nggak MaSam aja yg tulisin komenku kalo sampe didikte gini? Wkwkwk

      Hapus
  3. ==Riilme's POWER Scale==
    Plot points : B
    Overall character usage : B
    Writing techs : A
    Engaging battle : A
    Reading enjoyment : A

    Di antara semua entri r1 yang saya baca sejauh ini, mungkin ini entri yang bisa dibilang paling asik buat dibaca dari awal sampe akhir

    Tacticool operationnya dapet, dan meski karakter" penulis di turnamen sebelumnya punya background militer, entah kenapa malah pas karakternya spirit alam gini yang dapet fokus pas buat diikutin. Lengkap pula Asibi punya unit recon kayak si Burung Hantu Tua dan bisa nyusun siasat perang sampe berapa step, rasanya udah lama saya ga baca battle yang mainan taktis kayak gini

    Terus ya ada beberapa tidbits yang saya suka paling kayak grup Lancer mati duluan, interaksi para reverier, domba" main kartu, naik lift lama disusul judul part selanjutnya, dan Akari-Yoshirou yang sempet"nya flirting di tengah situasi begini. Poin" kecil gini mungkin remeh, tapi cukup banyak dan menghibur, jadi faktor kenapa entri ini enjoyable di mata saya

    ==Final score: A (9)==
    OC : Iris Lemma

    BalasHapus
  4. Wah, akhirnya bisa juga baca entri pov1 sampai komplit. Biasanya saya kurang nyaman ama pov1, terutama pas prelim tapi kali ini, strategi penempatan pov1 ke support chararcter membuat saya bisa mengamati asibi lebih dalam lagi... and i like it. Keep your style!

    Sedikit curhat, saya agak ngerasa asibi ini basicnya “traditional trade..ancient age..” tapi kok bisa beradaptasi dengan situasi perang post-modern. Seandainya asibi jatuh di setting kerajaan atau misal kejatah setting invasinya Seth, mungkin korelasinya bakal jauh lebih masuk akal. Tapi itu Cuma preferensi saya pribadi, sih. Ni cewek ttp keren kok di mata saya.

    8

    BalasHapus
  5. Eleuh, eleuh. Iyeu eneng Asibi lakonna hade oge, nyak?

    Gurih-gurih sedap lah mun ngangge istilah makanan mah. Heheheh.

    Penggambaran latar sama karakternya dapet semua. Dan ternyata mbah agak salah nangkep juga. Myeengun teh sebenernya bisa serius juga, bukan cuma mesin celetuk parodi ama referensi juga. Aduh, hapunten di lakon mbah kurang gereget si Myeengunnya. Burung Hantu tua juga, ternyata dia bukan cuma pengamat aja. Perannya di sini penting juga buat berjalannya lakon.

    Parodinya segar menghibur, lah. Mbah sempet-sempetnya ketawa juga liat peran mbah di situ malu-maluin banget. Namanya orang tua mau eksis tapi jadi mringis juga kalo udah kumat heheheh.

    Dan biar kuno tapi tidak kekunoan, katanya. Neng Asibi ternyata bisa ngelakon seperti mata-mata di Mision Imposibel begitu, pintar-pintaran dan berantem dengan lincah.

    Mbah pada akhirnya harus setuju sama penulisnya Iris Lemma, kalau lakon eneng Asibi ini enak untuk dinikmati.

    Nilai akhir mbah kasih 9 deh. Semoga bisa ketemuan di R2 ya.

    TTD

    BalasHapus
  6. Huaaa POV 1nya bikin ngiri,,, @3@ smuanya dpet sorot yang bagus, ada beberapa penggunaan kata yang err boros? but still... POV1nya bikin saya iri pas di taruh di supp chara.. hummh.. ini bisa jadi reverensi @3@

    dari saya 9

    Airi Einzworth

    BalasHapus
  7. Wahahahahhahah humornya berbekas juga ini, sanggup membuat saya ketawa sendiri di real life ga cuma komen "hahahahaha" padahal aslinya cemberut doang xD /apaanlah.

    Tulisannya rapih dan mudah dicerna, ditambah cerita yang asik... Overall memuaskan lah! Tapi ada beberapa part yang saya skip karena saya rasa part tersebut mau ada mau tidak pun tak jadi masalah.

    Nilai 8

    Wasalam
    Ganzo Rashura

    BalasHapus
  8. Fuuuhhh serasa baru saja terjun masuk ke pertempuran.
    Pov 1-nya benar2 luar biasa.

    Nilai 10
    Penulis Dadakan / Arca

    BalasHapus
  9. alur ny oke. tema militernya bagus~
    aq harus belajar lagi nih


    total:8
    OC: Mia

    BalasHapus
  10. Ada yg karakterisasinya kurang di sini.
    Plot dan konflik sendiri sudah okelah ditambah dengan gaya pov 1 yg halus dimana tidak aku aku melulu di sana di sini di mana mana.
    Dombanya mengembik bersamaan, paduan suara kali...

    7
    Samara Yesta~

    BalasHapus
  11. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  12. ampun, panjang.

    aye suka pembagian bab dengan cara begini, apa sih sebutannya?
    Archive? note?

    selalu suka penamaan yang dikasi bang Zoel, ga tau nyebutinnya harus gimana.

    Wiijishimotawaa Gookooko'oog


    endingnya, mantap.
    gaplek!

    8.

    OC: Wameodo Huang.

    BalasHapus
  13. Sy suka peran si nenek di sini, jadi shinobi, padahal ada si namol yg bisa nembus dinding, wkwk

    Penggalan babnya bercitarasa militer, dan itu sesuai banget. Sayangnya fokus cerita hanya di pihak NEST saja, pihak HHF gak terlalu terekspos.

    Daripada mistik/spirit, Asibi ini lebih berkesan ahli taktik ya ^_^

    NILAI: 9
    (Martha)

    BalasHapus
  14. Sejauh ini dari semua entry yg kubaca di BoR6, baru ini yang tactical operation-nya lengkap banget. Istilah klik, lokasi, perimeter, pokoknya istital lapangan militer nyatu lincah di dalam entry. Saya nikmati banget membaca entry ini, plus karakterisasi perbedaan dialog tiap karakter kelihatan. Mbak.Amut yang sunda, brian yg agak pendiam, Namol yg somehow diaini bikin aku inget si Fata.

    Entry ini lebih menekankan interaksi Asibi dg kawan2nya, plus Akari, ada bumbu romens dg si bawahan... which is sepertinya karakter lain seperti hanya numpang lewat aja, tapi menurutku sih gpp karena plot itu hak asasi author.

    Yang bikjn kurang sreg cuma pergantian POV 1 ke POV 3, yang menurutku malah jadi nanggung. Justru Suasana batin Myeengun, nggak kelihatan disini. Saranku mah, om Zoel pakai POV 3 aja di entry berikutnya.

    Worth 9/10

    Rakai Asaju,
    OC Shade

    BalasHapus

Selamat mengapresiasi~

Tuliskan komentar berupa kesan-kesan, kritik, ataupun saran untuk entri ini. Jangan lupa berikan nilai 1 s.d. 10 sesuai dengan bagus tidaknya entri ini berdasarkan ulasan kalian. Nilai harus bulat, tidak boleh angka desimal. Perlu diingat, ulasan kalian harus menunjukkan kalau kalian benar-benar membaca entri tersebut, bukan sekadar asal komen. Admin berhak menganulir jika merasa komentar kalian menyalahi aturan.

PENTING: Saling mengkritik sangat dianjurkan tapi harus dengan itikad baik. Bukan untuk menjatuhkan peserta lain.